Perkembangan industri digital dan data center di Indonesia mendorong kebutuhan listrik yang semakin besar. Kementerian ESDM pada 23 September 2026 menyampaikan bahwa meningkatnya industri digital turut meningkatkan kebutuhan energi, termasuk kebutuhan terhadap Energi Baru Terbarukan (EBT).
Table of Contents
ToggleEnergi Terbarukan Jadi Bagian Penting
Peningkatan kebutuhan listrik membuka ruang semakin besar bagi pengembangan sumber energi bersih di Indonesia, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Arah tersebut juga sejalan dengan RUPTL PLN 2025–2034. Dalam rencana tersebut, pemerintah menargetkan 76% penambahan kapasitas pembangkit berasal dari EBT dan energy storage, dengan pengembangan tenaga surya direncanakan mencapai 17,1 GW dan storage sebesar 10,3 GW.
PLTS untuk Bisnis dan Industri
Bagi sektor komersial dan industri, PLTS dapat menjadi salah satu pilihan untuk memanfaatkan energi terbarukan secara langsung pada fasilitas operasional.
Integrasi solar panel, inverter, Battery Energy Storage System (BESS), mounting system, serta sistem monitoring dan proteksi juga memungkinkan sistem dirancang sesuai kebutuhan dan profil konsumsi energi masing-masing proyek.
Seiring meningkatnya kebutuhan energi Indonesia, pengembangan PLTS bukan hanya bagian dari transisi energi, tetapi juga menjadi bagian penting dari pembangunan infrastruktur energi masa depan.
Arah tersebut juga sejalan dengan RUPTL PLN 2025–2034. Dalam rencana tersebut, pemerintah menargetkan 76% penambahan kapasitas pembangkit berasal dari EBT dan energy storage, dengan pengembangan tenaga surya direncanakan mencapai 17,1 GW dan storage sebesar 10,3 GW.
Solar Mart Energi menyediakan berbagai kebutuhan sistem PLTS untuk proyek komersial dan industri, mulai dari solar panel, inverter, battery, mounting system, kabel, konektor hingga komponen pendukung lainnya.
Every Watt. Every Part. Solar Mart.
Sumber: Kementerian ESDM RI, 23 September 2026; Ditjen EBTKE – RUPTL PLN 2025–2034.


